Senin, 19 Januari 2009

Pengertian mesin CNC

1. Pengertian mesin CNC

CNC singkatan dari Computer Numerically Controlled, merupakan mesin

perkakas yang dilengkapi dengan sistem mekanik dan kontrol berbasis komputer yang

mampu membaca instruksi kode N, G, F, T, dan lain-lain, dimana kode-kode tersebut

akan menginstruksikan ke mesin CNC agar bekerja sesuai dengan program benda kerja

yang akan dibuat. Secara umum cara kerja mesin perkakas CNC tidak berbeda dengan

mesin perkakas konvensional. Fungsi CNC dalam hal ini lebih banyak menggantikan

pekerjaan operator dalam mesin perkakas konvensional. Misalnya pekerjaan setting tool

atau mengatur gerakan pahat sampai pada posisi siap memotong, gerakan pemotongan

dan gerakan kembali keposisi awal, dan lain-lain. Demikian pula dengan pengaturan

kondisi pemotongan (kecepatan potong, kecepatan makan dan kedalaman pemotongan)

serta fungsi pengaturan yang lain seperti penggantian pahat, pengubahan transmisi

daya (jumlah putaran poros utama), dan arah putaran poros utama, pengekleman,

pengaturan cairan pendingin dan sebagainya.

Mesin perkakas CNC dilengkapi dengan berbagai alat potong yang dapat

membuat benda kerja secara presisi dan dapat melakukan interpolasi yang diarahkan

secara numerik (berdasarkan angka). Parameter sistem operasi CNC dapat diubah

melalui program perangkat lunak (software load program) yang sesuai. Tingkat ketelitian

mesin CNC lebih akurat hingga ketelitian seperseribu millimeter, karena penggunaan

ballscrew pada setiap poros transportiernya. Ballscrew bekerja seperti lager yang tidak

memiliki kelonggaran/spelling namun dapat bergerak dengan lancar.

Pada awalnya mesin CNC masih menggunakan memori berupa kertas berlubang

sebagai media untuk mentransfer kode G dan M ke sistem kontrol. Setelah tahun 1950,

ditemukan metode baru mentransfer data dengan menggunakan kabel RS232, floppy

disks, dan terakhir oleh Komputer Jaringan Kabel (Computer Network Cables) bahkan

bisa dikendalikan melalui internet.

Akhir-akhir ini mesin-mesin CNC telah berkembang secara menakjubkan

sehingga telah mengubah industri pabrik yang selama ini menggunakan tenaga manusia

menjadi mesin-mesom otomatik. Dengan telah berkembangnya Mesin CNC, maka

benda kerja yang rumit sekalipun dapat dibuat secara mudah dalam jumlah yang

banyak. Selama ini pembuatan komponen/suku cadang suatu mesin yang presisi

dengan mesin perkakas manual tidaklah mudah, meskipun dilakukan oleh seorang

operator mesin perkakas yang mahir sekalipun. Penyelesaiannya memerlukan waktu

lama. Bila ada permintaan konsumen untuk membuat komponen dalam jumlah banyak

dengan waktu singkat, dengan kualitas sama baiknya, tentu akan sulit dipenuhi bila

menggunakan perkakas manual. Apalagi bila bentuk benda kerja yang dipesan lebih

rumit, tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Secara ekonomis biaya produknya

akan menjadi mahal, hingga sulit bersaing dengan harga di pasaran.

Tuntutan konsumen yang menghendaki kualitas benda kerja yang presisi,

berkualitas sama baiknya, dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang banyak, akan

lebih mudah dikerjakan dengan mesin perkakas CNC (Computer Numerlcally

Controlled), yaitu mesin yang dapat bekerja melalui pemogramman yang dilakukan dan

dikendalikan melalui komputer. Mesin CNC dapat bekerja secara otomatis atau semi

otomatis setelah diprogram terlebih dahulu melalui komputer yang ada.

Program yang dimaksud merupakan program membuat benda kerja yang telah

direncanakan atau dirancang sebelumnya. Sebelum benda kerja tersebut dieksikusi

atau dikerjakan oleh mesin CNC, sebaikanya program tersebut di cek berulang-ualang

agar program benar-benar telah sesuai dengan bentuk benda kerja yang diinginkan,

serta benar-benar dapat dikerjakan oleh mesin CNC. Pengecekan tersebut dapat

melalui layar monitor yang terdapat pada mesin atau bila tidak ada fasilitas cheking

melalui monitor (seperti pada CNC TU EMCO 2A/3A) dapat pula melalui plotter yang

dipasang pada tempat dudukan pahat/palsu frais. Setelah program benar-benar telah

berjalan seperti rencana, baru kemudian dilaksanakan/dieksekusi oleh mesin CNC.

Dari segi pemanfaatannya, mesin perkakas CNC dapat dibagi menjadi dua,

antara lain: (a) mesin CNC Training unit (TU), yaitu mesin yang digunakan sarana

pendidikan, dosen dan training. (b) mesin CNC produktion unit (PU), yaitu mesin CNC

yang digunakan untuk membuat benda kerja/komponen yang dapat digunakan sebagai

mana mestinya. Dari segi jenisnya, mesin perkakas CNC dapat dibagi menjadi tiga jenis,

antara lain: (a) mesin CNC 2A yaitu mesin CNC 2 aksis, karena gerak pahatnya hanya

pada arah dua sumbu koordinat (aksis) yaitu koordinat X, dan koordinat Z, atau dikenal

dengan mesin bubut CNC, (b) mesin CNC 3A, yaitu mesin CNC 3 aksis atau mesin yang

memiliki gerakan sumbu utama kearah sumbu koordinat X, Y, dan Z, atau dikenal

dengan mesin frsais CNC. (c) mesin CNC kombinasi, yaitu mesin CNC yang mampu

mengerjakan pekerjaan bubut dan freis sekaligus, dapat pula dilengkapi dengan

peralatan pengukuran sehingga dapat melakukan pengontrolan kualitas

pembubutan/pengefraisan pada benda kerja yang dihasilkan. Pada umumnya mesin

CNC yang sering dijumpai adalah mesin CNC 2A (bubut) dan mesin CNC 3A (frais).



2. DASAR-DASAR PEMOGRAMAN MESIN CNC

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan seorang programmer sebelum

menggunakan mesin CNC, pertama mengenal beberapa sistem koordinat yang ada

pada mesin CNC, yaitu: (a) sistem koodinat kartesius, yang terdiri dari koordinat mutlak

(absolut) dan koordinat relatif (inkremental), dan (b) sistem koordinat kutub (koordinat

polar), yang terdiri dari koordinat mutlak (absolut) dan koordinat relatif (inkremental).

Selanjutnya menentukan system koordinat yang akan digunakan dalam pemograman.

Apakah program akan menggunakan sistem pemogramman metode absolut atau

inkremental. Pada umumnya sistem koordinat yang sering digunakan antara lain sistem

koordinat kartesius, yaitu koordinat mutlak (absolut) dan koordinat relatif/berantai

(incremental). Langkah kedua adalah memahami prinsip gerakan sumbu utama dalam

mesin CNC.



2.1 Pemrograman Absolut

Pemrograman absolut adalah pemrogramman yang dalam menentukan titik

koordinatnya selalu mengacu pada titik nol benda kerja. Kedudukan titik dalam benda

kerja selalu berawal dari titik nol sebagai acuan pengukurannya. Sebagai titik referensi

benda kerja letak titik nol sendiri ditentukan berdasarkan bentuk benda kerja dan

keefektifan program yang akan dibuat. Penentuan titik nol mengacu pada titik nol benda

kerja (TMB). Pada pemrogramman benda kerja yang rumit, melalui kode G tertentu titik

nol benda kerja (TMB) bisa dipindah sesuai kebutuhan untuk memudahkan

pemrogramman dan untuk menghindari kesalahan pengukuran.

Pemrogramman absolut dikenal juga dengan sistem pemrogramman mutlak,

di mana pergerakan alat potong mengacu pada titik nol benda kerja. Kelebihan dari

sistem ini bila terjadi kesalahan pemrogramman hanya berdampak pada titik yang

bersangkutan, sehingga lebih mudah dalam melakukan koreksi. Berikut ini contoh

pengukuran dengan menggunakan metode absolut.

Y

C

A B

Titik Koordinat Absolut

(X , Y)

A B C

(1, 1)

(5, 1 )

(3, 3 )

Gambar 3. Pengukuran dengan Metode Absolut



2.2 Pemrogramman Relatif (inkremental)

Pemrogramman inkremental adalah pemrogramman yang pengukuran

lintasannya selalu mengacu pada titik akhir dari suatu lintasan. Titik akhir suatu lintasan

merupakan titik awal untuk pengukuran lintasan berikutnya atau penentuan

koordinatmya berdasarkan pada perubahan panjang pada sumbu X (.X) dan perubahan

X

6

panjang lintasan sumbu Y (.Y). Titik nol benda kerja mengacu pada titik nol sebagai titik

referensi awal, letak titik nol benda kerja ditentukan berdasarkan bentuk benda kerja dan

keefektifan program yang akan dibuatnya. Penentuan titik koordinat berikutnya mengacu

pada titik akhir suatu lintasan.

Sistem pemrogramman inkremental dikenal juga dengan sistem pemrogramman

berantai atau relative koordinat. Penentuan pergerakan alat potong dari titik satu ke titik

berikutnya mengacu pada titik pemberhentian terakhir alat potong. Penentuan titik

setahap demi setahap. Kelemahan dari sistem pemrogramman ini, bila terjadi kesalahan

dalam penentuan titik koordinat, penyimpangannya akan semakin besar. Berikut ini

contoh dari pengukuran inkremental.

Y C

A B

Titik Koordinat Inkremental

(.X , .Y)

A B C

( 1 , 1 )

( 4 , 1 )

( -2 , 2 )

Gambar 4. Pengukuran metode inkremental



2.3 Pemrogramman Polar

Pemrogramman polar terdiri dari polar absolut mengacu pada panjang lintasan

dan besarnya sudut (@ L, á) dan polar inkremental mengacu pada panjang

lintasan dan besarnya perubahan sudut (@ L, . á).

X

7

Y C

A B

Polar Koordinat Absolut:

(@ L , á)

Polar Koordinat Inkremental

(@ L , .á)

B (5, 0o) ,

C (2V2, 135 o )

A (2V2, 225 o )

B (5, 0o) ,

C (2V2, 135 o )

A (2V2, 270 o )

Gambar 5. Pengukuran metode inkremental.



3. Gerakan sumbu utama pada mesin CNC

Dalam pemogrammman mesin CNC perlu diperhatikan bahwa dalam setiap

pemograman menganut, prinsip bahwa sumbu utama (tempat pahat/pisau frais) yang

bergerak ke berbagai sumbu, sedangkan meja tempat dudukan benda diam meskipun

pada kenyataanya meja mesin frais yang nergerak. Programer tetap menganggap

bahwa alat potonglah yang bergerak. Sebagai contoh bila programer menghendaki

pisau frais ke arah sumbu X positif, maka meja mesin frais akan bergerak ke sumbu X

negatif, juga untuk gerakan alat pemotong lainnya.

Gambar 6. Gerakan sumbu utama menganut kaidah tangan kanan

X

8

Selain menentukan sumbu simetri mesin, langkah berikutnya adalah memahami

letak titik nol benda kerja (TNB), titik nol mesin (TNM), dan titik referens (TR). TNB

merupakan titik nol di mana dari titik tersebut programmer mengacu untuk menentukan

dimensi titik koordinatnya sendiri, baik secara absolute maupun inkremental. TNM

merupakan titik nol mesin. Pada mesin CNC bubut TNM terletak di pangkal cekam (lihat

Gambar 24) tempat cekam benda kerja diletakkan. Pada mesin CNC frais TNM berada

pada pangkal dimana alat potong/pisau frais diletakkan (lihat Gambar 25). Titik Referens

(TR) adalah suatu titik yang menyebutkan letak alat potong mula-mula diparkir atau

diletakan. Titik referens ditempatkan agak jauh dari benda kerja, agar pada saat

pemasangan atau melepaskan benda kerja, tangan operator tidak mengenai alat potong

yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Benda kerja aman untuk dipasang

maupun dilepas dari ragum atau pencekam.

(a)

(b)

Gambar 7. TNB, TNM, dan TR pada mesin CNC Bubut (a) dan Frais (b)

Pembuatan program mesin CNC, seorang programmer harus memiliki

kemampuan dasar pemograman, antara lain: (a) Pengalaman dalam membaca gambar

TNB

TNM

TR

TNM

TNB

TR

9

teknik, (b) berpengalaman dalam pengerjaan logam dengan menggunakan mesin

perkakas konvensional. (c) mampu memilih alat potong/pahat perkakas secara tepat

sesuai dengan peruntukannya, (d) dapat menentukan posisi benda kerja dalam sisitem

koordinat, (e) mempunyai dasar-dasar pengetahuan matematika terutama trigonometri.



4 Standarisasi Pemrogramman Mesin Perkakas CNC

Pemakaian kode-kode pada mesin perkakas CNC dapat menggunakan standar

pemrograman ynag berlaku antara lain: DIN (Deutsches Institut fur Normug) 66025,

ANSI (American Nationale Standarts Institue), AEROS (Aeorospatiale Frankreich), ISO,

dll. Sebagian besar dari standar, yang diinginkan memiliki persamaan dan sedikit saja

perbedaannya. Berikut ini beberapa bagian kode pada mesin CNC EMCO antara lain

kode G, kode M, kode F, kode S dan kode T yang mempunyai arti sebagai berikut.



4.1 Arti Kode M pada mesin CNC

KODE ARTI

M00 Mesin terhenti terprogram

M03 Sumbu utama berputar searah dengan jarum jam; Kode ini biasanya

pada awal intruksi. Adanya kode ini menyebabkan sumbu utama

mesin akan berputar searah jarum jam. Pada mesin bubut CNC

cekam benda kerja akan berputar searah jarum jam, sedangkan pada

mesin frais CNC yang berputar adalah tempat alat potong arbornya

.

Gambar 8. Alat potong berputar searah jarum jam M03

M04 Sumbu utama berputar berlawanan arah jarum jam

10

Gambar 8a. Arah putaran spindle berlawanan jarum jam (M04)

M05 Sumbu utama berhenti terprogram

M06 Penggantian alat potong dilakukan agar kualitas benda kerja

meningkat. Bentuk benda kerja yang semakin kompleks akan

cenderung menggunakan alat potong yang banyak, seperti

pemakanan kasar, pengeboran, pembuatan alur, dan pemakanan

finishing. Masing-masing jenis pemakanan memerlukan alat potong

yang khusus, sebagai contoh alat potong untuk melakukan

pemakanan kasar akan berbeda dengan alat potong yang digunakan

untuk membuat ulir.

M08 Cairan pendingin akan mengalirkan.

Pada proses pengerjaan benda kerja, terjadi gesekan antara benda

kerja dan alat potong. Alat potong dan benda kerja akan menjadi

panas. Bila tidak didinginkan maka alat potong akan cepat tumpul/

rusak. Oleh karena itu perlu didinginkan dengan cara memerintahklan

mesin untuk mengalirkan cairan pendingin (coolant).

Gambar 9. Cairan pendingin disemprotokan untuk mendinginkan alat

potong dan benda kerja

M09 Cairan pendingin berhenti mengalir

M17 Sub program (unterprogram) berakhir

M19 Sumbu utama posisi tepat

M30 Program berakhir dan kembali pada program semula.

M38 Berhenti tepat, aktif

M39 Berhenti tepat, pasif

M90 Pembatalan fungsi pencerminan

11

M91 Pencerminan sumbu X

M92 Pencerminan sumbu Y

M93 Pencerminan sumbu X dan Y

M99 Penentuan parameter lingkaran I, J, K.



5. Arti Kode G pada mesin CNC

Intruksi pada mesin CNC menggunakan kode-kode pemrograman, misal kode G,

kode M, kode P, dan sebagainya. Arti kode tiap mesin biasanya memiliki persamaan,

namun arti kode pada merek yang berbeda dapat memiliki arti yang berbeda pula,

sehingga programmer harus dapat menyesuaikan standarisasi kode yang digunakan

pada mesin CNC yang akan digunakan. Sebagai contoh intruksi G 84 pada mesin CNC

EMCO TU 2A berarti pembubutan memanjang, sedangkan pada mesin CNC PU 2A

merek Gildmeister siklus pembubutan memanjang menggunakan kode G 81.



5.1 Arti Kode G 00

Kode G 00 merupakan intruksi untuk memerintahkan mesin CNC agar sumbu

utama (pisau frais/pahat bubut) melakukan gerakan cepat tanpa melakukan pemakanan.

Gerakan ini digunakan bila pahat/pisau frais tidak melakukan pemakanan pada benda

kerja. Gerakan cepat digunakan bila alat potong berada bebas dari pemakanan benda

kerja, alat potong kembali ke atas permukaan benda kerja, atau kembali ke titik referen.

Gerakan cepat dapat dilakukan bila posisi alat potong benar-benar tidak akan menabrak

benda kerja atau peralatan lainnya. Kesalahan dalam penentuan koordinat dapat

menyebabkan benturan antara alat potong dengan mesin atau benda kerja yang dapat

menyebabkan kerusakan fatal pada alat potong maupun mesin

(a) (b)

Gambar 10. Gerakan cepat alat potong di atas benda kerja

12

Lintasan alat potong di atas akan bergerak cepat ke bawah di sebelah benda

kerja tanpa pemakanan (Gambar 29 b), pemrograman inkrementalnya dapat ditulis:



5.2 Arti Kode G 01

Kode G 01 merupakan instruksi agar alat potong mesin CNC melakukan gerakan

pemakanan lurus baik ke arah sumbu X, Y, maupun Z. Pada mesin CNC baik bubut

maupun frais intruksi G 01 merupakan perintah agar alat potong bergerak lurus dari satu

titik ke titik lainnya dengan kecepatan sesuai dengan feeding yang telah ditentukan.

(b) (b)

Gambar 11. Pembubutan lurus (a) dan tirus (b) pada mesin bubut CNC

(a) (b)

Gambar 12. Pemakanan lurus pada mesin CNC frais

Gerakan lurus dengan pemakanan digunakan untuk melakukan pengefraisan

atau pembubutan lurus, termasuk tirus dan kedalaman pemakanan.

13

Lintasan alat potong bergerak dengan pemakanan lurus ke titik X =25 dan Y =18

(Gambar 31 b), pemrograman inkrementalnya dapat ditulis:



5.3 Arti Kode G 02

Kode G 02 merupakan intruksi agar alat potong mesin CNC melakukan gerakan

interpolasi lingkaran searah jarum jam. Alat potong (pisau frais atau pahat bubut) akan

membentuk lingkaran yang searah jarum jam. Sering dijumpai bentuk benda kerja yang

berupa lengkungan yang memiliki radius tertentu. Seperti bentuk fillet pada ujung–ujung

benda kerja atau bentuk lingkaran sebagian atau penuh pada benda kera. Gerakan

searah jarum jam atau berlawanan menggunakan asumsi bahwa alat potong berada di

atas benda kerja, atau di belakang benda kerja. Jadi bila alat potong berada di depan

benda kerja maka berlaku sebaliknya.

G 02 X + ….. Z - ….. G 02 X - ….. Z - …..

Gambar 13. Arah pembubutan melingkar G 02 pada mesin CNC Bubut

Gambar 14. Arah pemakanan melingkar G 02 pada mesin CNC Frais

G 02 Searah JJ

14

Lintasan alat potong mesin frais bergerak dengan pemakanan radius berlawanan

dengan jarum jam ke titik X = Pz dan Y = Pz (Gambar 33). Pemrograman

inkrementalnya bila menggunakan EMCO TU 2A dapat ditulis:

N 100 = Nomor blok ke 100

G 02 = Gerak alat potong melingkar searah dengan jarum jam

XPz = Tujuan lengkungan searah X yang dikehendaki (mm)

YPz = Tujuan lengkungan searah Y yang dikehendaki (mm)

ZPz = Tujuan lengkungan searah Z yang dikehendaki (mm)

F = Feeding (kecepatan asutan dalam mm/menit)

M99 = merupakan parameter gerak alat potong membentuk radius

yang berpusat di titik M yang memiliki jarak dengan titik awal searah

sumbu X disebut I, searah dengan sumbu Y disebut J, dan searah

dengan sumbu Z disebut K



5.4 Arti Kode G 03

Kode G 03 merupakan instruksi agar alat potong mesin CNC melakukan gerakan

interpolasi lingkaran berlawanan arah dengan jarum jam. Gerakan ini akan selalu

membentuk lingkaran yang berlawanan arah dengan jaraum jam.

G 03 X + ….. Z - ….. G 03 X - ….. Z - …..

Gambar 15. Arah pembubutan melingkar G 03 pada mesin CNC bubut

G 03 berlawanan arah JJ

15

Gambar 16. Arah pemakanan melingkar G 03 pada mesin CNC Frais

Lintasan alat potong mesin frais bergerak dengan pemakanan radius berlawanan

dengan jarum jam ke titik X = Pz dan Y = Pz (Gambar 35). Pemrograman

inkrementalnya bila menggunakan EMCO TU 2A dapat ditulis:



6. Parameter I, J, K

Setiap gerakan alat potong yang membentuk lintasan radius, baik searah jarum

jam (G02) maupun yang berlawanan arah dengan jarum jam (G03) harus dilengkapi

parameteri I, J, K. Parameter I artinya jarak titik awal lintasan radius ke titik pusat

lengkungan searah X, Parameter J artinya jarak titik awal lintasan radius ke titik pusat

lingkaran searah Y, Parameter K artinya jarak titik awal lintasan radius ke titik pusat

lingkaran searah Z. Parameter I, J, K bernilai absolute maupun inkremental. Nilai

absolute selalu mengacu pada titik nol, sedangkan nilai inkremental mengacu pada

perubahan X, dan perubahan Y (Gambar 17).

Gambar 17. Nilai I, J, K inkremental

J

I

16

Gambar 18. Nilai I, J, K Absolute

KODE - KODE ALARM

A 00 Salah Perintah fungsi G atau M

A 01 salah Perintah G 02 atai G 03

A 02 Nilai X Salah

A 03 Nilai F salah

A 05 Kurang Perintah M 30



C. Rangkuman

Computer Numerically Controlled, merupakan mesin perkakas yang dilengkapi

dengan sistem kontrol berbasis komputer yang mampu membaca instruksi kode N dan

G (G-kode) yang mengatur kerja sistem. Pemrograman mesin CNC hampir sama

dengan pemrograman AutoCAD. Pemrograman mesin CNC meliputi pemrograman

absolut, relatif dan polar. Langkah-langkah mengoperasikan mesin CNC dimulai dengan

mempersiapkan program, pemasukan program, pengujian atau pemeriksaan program

dan eksekusi program.



7. SIKLUS PEMROGRAMMAN

Pengerjaan benda kerja dengan bentuk tertentu akan lebih cepat bila

menggunakan siklus pemrogramman. Keuntungan yang diperoleh antara lain: tidak

memerlukan intruksi/blok kalimat yang panjang, lebih mudah, dan lebih cepat. Beberapa

siklus pemrogramman yang ada pada tiap mesin CNC antara lain: siklus pengeboran,

siklus pembuatan ulir, siklus kantong, siklus alur, dan lain-lain. Siklus pemrogramman

merupakan pemrogramman membuat kontur atau pengeboran yang mengacu pada

dimensi bentuk konturnya. Pola siklus pemrograman kontur untuk setiap mesin memiliki

karakteristik yang berbeda. Di bawah ini beberapa contoh siklus pemrogramman dengan

menggunakan mesin Frais CNC MAHO 432, CNC Bubut Gildmesiter dan CNC Training

Unit (TU).



7.1 Siklus Pemrogramman Pembubutan Memanjang

Alat potong (pisau frais/bubut) akan bergerak membentuk siklus pemakanan

memanjang secara otomatis. Siklus pemakanan ini biasanya untuk melakukan

pemakanan awal yang masih kasar sebelum alat potong bergerak melakukan finishing

sesuai lintasannya. Pada mesin CNC EMCO TU 2A siklus pembubutan memanjang

menggunakan kode G 84, biasanya dilakukan untuk pemakanan kasar sehingga dapat

memperpendek waktu pengerjaan dan proses finisihing akan lebih mudah.



7.1 Siklus pemrogramman G 84 pada mesin CNC EMCO

Gambar 19. Siklus pemakanan memanjang G 84

18

Lintasan alat potong mesin CNC bubut bergerak dengan siklus pemakanan memanjang

dengan pengurangan diameter secara bertahap (Gambar 42). Pemrogramannya bila

menggunakan EMCO TU 2A dapat ditulis:

N G X Z F

00 00 -500

01 00 0 -400

02 84 -100 -2100 100

03 84 -200 -2100 100

04 84 -300 -1600 100

05 84 -400 -1600 100

06 84 -500

07 00 500

08 00 0 400

09 22

Keterangan :

N = nomor blok

G 84 = Perintah siklus pembubutan memanjang

X = Diameter yang akan dikehendaki (mm)

Z = Gerak memanjang (m)

F = Feeding (kecepatan asutan dalam mm/menit)

H = Kedalaman tiap kali pemakanan



7.2 Siklus pemrogramman G 81 mesin CNC PU 2A Gildmeister

Pada mesin CNC bubut Production Unit merek Gildmeister terdapat tiga jenis

pembubutan memanjang. Pertama pada akhir siklus tanpa diakhiri proses finishing

(Gambar 20 a), kedua pada akhir siklus dilanjutkan proses finishing (Gambar 20b),

ketiga bentuk pembubutan memanjang dengan bentuk lurus dan tirus (Gambar 20c).

19

(a) (b)

(c)

Gambar 20. Siklus pemakanan memanjang G 81 mesin Gildmeister



7.3 Arti Kode G 88

G 88 merupakan perintah untuk membuat siklus pembubutan melintang pada

mesin CNC TU 2A EMCO. Pada mesin CNC PU 2A merek Gildmesiter siklus

pembubutan melintang intruksinya berupa G 36 G 82. Bila pemakanan dimulai dari titik

nol benda kerja, maka siklus ini dapat digunakan untuk mengurangi panjang benda

kerja, atau untuk menghasilkan permukaan melintang yang halus selanjutnya dapat

menentukan titik nol benda kerja. Berbeda dengan perintah G 84, benda kerja akan

mengalami pengurangan diameter sepanjang titik koordinat yang sudah ditentukan

sebelumnya.

20

Gambar 21. Siklus pembubutan melintang G 36 G 82

Gambar 22. Siklus pembubutan melintang dengan finishing G 37 G 82

Bila proses pembubutan melintang dilanjutkan dengan proses finishing dengan

menggunakan alat potong yang sama, maka siklus pemrogrammannya menggunakan G

37 G 82



7.4 Siklus Pembuatan Kantong

21

Gambar 23. Siklus pembuatan kantong

Penulisan program siklus pembuatan kantong di atas dapat dituliskan :

G87 X60 Y60 Z-10 B2 R8 (I70) (J-1) K5 F… Z…. M…

G87 = Siklus pembuatan kantong (mesin CNC MAHO 432)

X60 = Panjang kantong

Y60 = Lebar kantong

Z-10 = Kedalaman kantong

B2 = Mulai dikerjakan alat potong pada jarak 2 mm di BK

K5 = Setiap siklus melakukan pemakanan se dalam 5 mm

I70 = Lebar pemakanan alat potong 70%

J-1 = Pisau frais berputar berlawanan arah jarum jam



7.5 Siklus Pembuatan kantong Lingkaran

Gambar 24. Siklus kantong lingkaran

Penulisan program siklus pembuatan kantong di atas dapat dituliskan:

G89 Z-10 B2 R20 (I70) (J-1) K5 F… Z…. M…

G89 = Siklus pembuatan lingkaran (mesin CNC MAHO 432)

Z-10 = Kedalaman kantong

B2 = Mulai dikerjakan alat potong pada jarak 2 mm di BK

K5 = Setiap silkus melakukan pemakanan se dalam 5 mm

22

I70 = Lebar pemakanan alat potong 70%

J-1 = Pisau frais berputar berlawanan arah jarum jam



7.6 Siklus Pemrogramman Pengeboran

Gambar 25. Siklus Pengeboran

Penulisan program siklus pembuatan kantong di atas dapat dituliskan :

G81 (X1.5) Y2 Z-15 B20 R20 F… Z…. M…

G81 = Siklus pengeboran (mesin Frais CNC MAHO 432)

Z-15 = Kedalaman pengeboran 15 mm

Y2 = Jarak aman alat potong 2 mm di atas permukaan benda kerja

B20 = Jarak aman alat potong 20 mm di atas BK (setelah slesai)



7.7. Siklus pembuatan ulir G33

Siklus pembuatan ulir akan membuat ulir sesuai dengan prosedur baku. Siklus

pembuatan ulir dilakukan setelah diameter luar ulir terbentuk. Setelah itu menggunakan

mesin CNC akan mengganti alat potong sesuai dengan Buku ajar ulir yang akan

dikerjakan. Di bawah ini contoh siklus pembuatan ulir M 40 x 2 dengan puncak ulir P=2

mm, dan kedalaman ulir 1,3 mm, menggunakan mesin CNC bubut Production Unit.

23

Gambar 26. Siklus pembuatan ulir G 33

N G/M X,Y,Z,I,J,K Keterangan

01 90 S…….M 03 Poros berputar searah JJ

02 G 00 X 46 Z 78 M 07 Cairan pendingin mengalir

03 G 00 X 38,7

04 G 33 Z 22 K 2 Tahap pertama penguliran

05 G 00 X 46

06 G 00 Z 78

07 G 00 X 37,4

08 G 33 Z 22 K 2 Tahap kedua penguliran

09 G 00 X 46 M 09

10 G 00 X 100 Z 150

11 M 30 Program berhenti



8. PERHITUNGA KECEPATAN

8.1 Kecepatan Potong (Vc) = (ð x d x n) / 1000 (m/menit)

d = Diameter Benda Kerja

n = jumlah putaran/menit (RPM)

ð = Phi = 3,14

24

Vc Dipengaruhi oleh: a) Bahan, b) Jenis Alat Potong, c) Kecepatan

Penyayatan/asutan, d) Kedalaman Penyayatan



8.2 Kecp. Asutan (F) (mm/menit) = n (put/menit) x f (mm/put)

n = (Vc x 1000) / ð x d (put/menit)

F dalam mm/putaran atau mm/menit



9. PROGRAM MEMBUAT PION DENGAN MESIN CNC TU.2A

Benda kerja yang akan dibuat adalah sebuah pion dari bahan material

Alumunium dengan dimensi awal berdiameter 32 mm panjang 50 mm dengan bentuk

sebagai berikut.

Gambar 27. Benda kerja pion yang akan dibuat

Dari benda kerja di atas, maka dapat dibuat program dengan menggunakan

mesin CNC EMCO Traininig Unit (TU 2A) sebagai berikut :

NO G/M X Z F

1 G92 27500 500

2 M03

3 G00 3200 100

4 G84 3200 -5500 50

5 G00 2000 100

6 G84 2000 -5000 50

7 G01 2000 -1600 50

8 G84 1800 -8000 50

25

9 G01 1600 -1000 50

10 G84 1600 -2200 50

11 G01 1400 -1600 50

12 G84 1400 -2200 50

13 G01 1200 -1700 50

14 G84 1200 -2100 50

15 G01 2200 -1000 50

16 G84 1400 -2500 50

17 G01 1200 -2500 50

18 G84 1200 -3500 50

19 G00 1600 -4000

20 G01 2000 -5000 50

21 G00 2200 100

22 G00 1800 100

23 G84 1800 -500 50

24 G00 1600 100

25 G84 1600 -400 50

26 G00 1400 100

27 G84 1400 -300 50

28 G00 1200 100

29 G84 1200 -200 50

30 G00 0 0

31 G03 2000 -1000 50

32 M99 I 00 K 1000

33 G00 2000 -1500

34 G02 1000 -2000 50

35 M99 I 00 K 500

36 G01 1600 -2300 50

37 G01 1000 -2600 50

38 G01 1400 -4000 50

39 G01 1600 -4000 50

40 G01 2000 -5000 50

41 G00 2750 500 50

42 M30

2 komentar:

  1. Trima kasih infonya, bisakah menerbitkan SOP dari mesin tersebut dan Modul dari praktikum mesin CNC, saya terus terang kurang dalam hal ini..trim ( gatutmsntag@gmail.com)

    BalasHapus
  2. pengetahuan soal mesin cnc sangat dibutuhkan bagi yang bergelut dibidangnya

    BalasHapus